Lembar Pertemuan

…………

Hingga suatu saat aku bergeser ke tepi gazebo, memandang ke arah luar, seperti yang telah ia lakukan, dan mendekatinya.

“Aku bukanlah seorang yang genius, teman-temanku bilang aku pandai, dan aku selalu bersekolah di sekolah favorit.”

“Rasanya cukup modal sudah bagiku untuk bercita-cita menggapai puncak tinggi nun jauh di sana itu…”

“Namun dalam perjalananku menyeberangi jurang itu ….aku terjatuh ke lubang sinaps yang sangat dalam, dan di luar dugaanku tali yang kupegangi terputus, aku terjun bebas ke bawah, dan membentur dasar sinaps itu. Rasanya sakit luar biasanya.”

“Kukumpulkan segenap dayaku…aku melihat ke atas…dan berusaha kembali ke sana..namun aku tak mampu. Tanpa tali itu, mustahil bagiku tuk kembali ke sana.”

“Dan akhirnya sampailah aku di tempat ini.”

“Jadi karena itu kamu berada di sini, dan mengundangku kemari…”

“Bisa jadi ya…karena engkau bagian dari masa laluku…karena engkau bagian dari orag-orang yang percaya pada diriku… tahu begitu banyak akan perjalananku…tahu berapa banyak jurang yang telah aku seberangi dengan taliku, dan aku selalu berhasil,,kalau pun aku terjatuh aku selalu dapat kembali dengan taliku…lebih dari itu, engkau selalu datang pada saat aku dalam kesulitan…”

“Dan ternyata satu hal yang tak kusadari hilang dariku, perjalanan itu tidak hanya membutuhkan niat,kesungguhan,semangat; kecerdikan dan kemampuan , lebih dari itu, juga membutuhkan penghargaan, pengakuan, dan dukungan dari orang-orang terdekat kita dan juga orang-orang sekitar. Agar kita menjadi beruntung.”

“Dorongan dan kasih sayang mereka, adalah separuh yang lain dari kekuatan tali itu.”

“Lantas apa yang bisa kamu harapkan dari kahadiranku.”

“Yah…mungkin saja, engkau akan ulurkan tali dari bibir jurang di atas sana. Bisa saja…”

“Yah…mungkin aku membutuhkan penghargaan, pengakuan, dukungan dan lebih dari itu…

adanya ,..jangan sampai sama dengan tidak adanya. Rindu atau tidak, sama saja..sama-sama tidak tersentuh…

Untuk itu bagaimana agar kehadiranku ini tersentuh, menjadi berarti bagi mereka dan bisa memberikan manfaat bagi mereka,.. memberikan penghargaan, pengakuan, dukungan dan hal lain yang pantas pada mereka. Menyelaraskan keinginan dan menyadari keterbatasan masing-masing. Tentu itu akan membuat ikatan tali itu menjadi lebih kokoh lagi.”

“Aku yakin akan dapatkan itu…tetapi akhirnya itu bukan tujuan utama.”

“Apa masih ada keinginanmu kembali ke sana itu.”

“Masalahnya bukan itu. apa masih ada tempat untukku di sana…”

“Peristiwa-peristiwa itu pengalaman yang berhargaku, dan akhirnya aku mereset dan mengatur ulang perjalananku…”

“Cukup bagiku…bila apa yang telah aku lakukan bisa memberikan banyak arti dan manfaat bagi orang-orang terdekatku…bagi orang-orang di sekitarku…yang dari mereka pula aku mendapatkan penghargaan, pengakuan, dan dukungan itu.”

“Cukup bagiku…bila dari perbuatanku mereka bisa tersenyum, mendapatkan kemudahan, atau pun apa namanya…dan pada akhirnya..mereka akan rasakan bahwa adanya aku punya arti bagi mereka…dan manakala tidak adanya aku mereka akan merasakan satu kehilangan…”

“Kalau begitu apa yang bisa aku bantu.”

“Banyak sekali…engkau telah memberiku banyak inspirasi .. Engkau telah banyak membantuku di masa-masa sulitku. Dan masih banyak lagi..aku tak bisa sebutkan satu persatu.. Hanya kalau engkau mau, kembalilah ke kota itu, agar kita bisa bersama-sama.”

“Aku yakin, banyak yang bisa engkau kerjakan di kota itu…kota impian kita.”

“Itu kan obsesiku dari dulu…..”

Ia terdiam memandangi awan siang itu, dan aku juga terdiam,………………….

(Diambil dari Novel Pribadi: SINAPS, Mudahnya Bilang Cinta. Episode: Pertemuan, dengan beberapa perubahan)

BINTANG MALAM

Sore ini, bintang malam bertemu dengan sang rembulan tepat di atas kepala. Hampir sama, dengan masa itu, ketika aku bersua denganmu, tanpa sengaja, dalam perjalanan di sebuah acara. Sore harinya, dalam catatanku terlihat seperti itu….

Dan ternyata…bertahun sudah kita telah tak sua lagi…ternyata secuil rasa itu, masih melekat dalam hatiku…paling tidak, aku tidak pernah akan lupa akan senyumanmu dan pertemuan-pertemuan itu yang seakan terjadi secara kebetulan. Dan rasanya hari-hari itu aku tidak pernah kehilanganmu, di mana pun kamu berada, aku selalu mendapatimu.

Hingga kusadari bahwa, sejak di awal perjumpaan itu, aku telah terpedaya pada pesona di wajahnya, aku terpedaya oleh senyuman khasnya, aku terpedaya oleh tutur katanya. Pokoknya aku benar-benar terpedaya…

 

Kulihat lihat ia datang bersinar bak bulan purnama itu, begitu menawan hatiku, sampai-sampai begitu lembut dan mempesona, menggores anganku, seperti merembangnya di tengah malam sang bintang malam, di suatu masa, hingga pada malam-malam selanjutnya menyelipkan secuil kerinduan di hatiku.

Sampailah terjalin sebuah puisi ….Kekasihku, aku telah jatuh cinta padamu,……Anganku terbuai ke halusinasi tak bertepi,….Jantungku berdegup dan berdebar keras,…..Terasa sesak napas di dada,….Bergetar urat dan persendian,……Manakala kuingin (sua) dan sua denganmu, dan seterusnya hingga rasa-rasanya pertemuan itu, adalah penawar dari gejolak rasa itu. Rasanya seperti aku tak sanggup lagi untuk tidak bertemu denganmu……….

Namun apalah aku ini..kalau aku hanya mengigau untuk bisa mencintaimu, (Dan) hanya bisa berharap bila waktu menyisakan perjalanan buat kita.

Duhai kekasihku, hanya apa daya pada diriku, bila tiada (cukup) pengorbanan yang dapat kuberikan padamu, bila tiada (cukup) harapan yang dapat kuberikan padamu, dan bila-bila yang lain yang tak lagi tergambarkan…

Dan hingga akhirnya kuputuskan untuk pergi. Dan segenap kerinduan dan impianku tentangmu kugantungkan pada bintang malam itu….kurekatkan kuat di sana…kemana aku pergi pasti akan selalu bersamaku..dan bila suatu saat, bila aku berhasil menatapnya, kurasakan seolah aku telah jua bertemu dirimu…telah menatapmu….dan melepas rasa rindu itu…kerinduanku padamu…

Dan kini seperti aku telah melihatnya lagi….bintang itu ada di atasku…dipandu sang rembulan begitu dekat, dekat sekali …ketika tenggelamnya sang surya itu…hari ini….

SAYANGNYA TELAH BERLALU…..

Setelah peristiwa itu, kecil kemungkinan bagi kita untuk dapatbertemu lagi seperti dulu. Pertemuan setelahnya akan mempunyai arti yang sangat berbeda. Aku sangat yakin, belum tentu kita akan dapat menjalaninya, bagaimanapun kesan mendalam yang telah terpatri di dalam pikiran dan hati kita. Hanya untuk sebuah pertemuan yang kita buat. Hanya karena satu hal, kita berdiri di atas realita yang berbeda. Realita yang unik, realita yang enggan untuk sejalan hanya sekedar menemukan adaptasi atau kompromi dari bait-bait harian kita.

Betapa pun banyak kata yang dapat dituliskan di atas kertas untuk sekedar menggantikan pertemuan itu. Rasanya itu tidak ada artinya lagi. Rasanya kalau pertemuan itu terjadi hanya sekedar basa-basi saja.

Apakah tidak ada kerinduan lagi di dalam hati ini ? Pertanyaan yang selalu hadir setiap kali muncul keinginan untuk menemuimu….. Satu hal yang dapat kuungkapkan padamu, aku sangat ingin jumpa kamu. Bila itu terjadi, setidaknya aku ingin datang ke kantin itu. Atau aku benar-benar pergi ke sana, lalu memesan makanan yang biasanya kita pesan waktu itu, sambil sekali berharap engkau akan datang ke tempat itu. Melihatmu berjalan di pengujung pandangan itu rasanya sudah cukup melegakan hasratku untuk bertemu denganmu. Bila itu terjadi, aku sudah senang sekali. Apalagi kudapati engkau sempat menyapaku, tak tergambarkan lagi betapa senangnya dan leganya hatiku.Bagaikan kemarau tersirami air hujan, seperti hilang rasa dahaga rerumputan di luar kantin itu.

Semisal pertemuan kita dulu menjadi kisah yang langka, sudah tentu aku mengenangnya menjadi kenangan manis. Pertemuan melintasi koridor-koridor  itu atau dari satu pintu yang satu ke pintu yang lain atau saat di teras sana itu ketika hujan turun dengan derasnya. Semuanya menorehkan untaian puisi yang tak tergambarkan artinya dalam hatiku.

Sampai suatu ketika kututup lembaran ini, rasanya sayang tuk dilepaskan begitu saja. Tuk kembali menjalani kehidupan itu, sesuai keberadaan yang ada di sekitar diri kita masing-masing. Pertemuan kita telah terhempas oleh egoisme realita. Namun aku yakin masih banyak kebaikan yang bisa kita perbuat, tuk menuju ke sana…………………atau mungkin telah berlalu.

Kapan waktu saja, bila teringat, salamku kan terucap untukmu……….(walau engkau tak mendengarnya).

Halo dunia! (Contoh)

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.